Blog
Menjadi Bagian dari Perubahan di Day 2 MPKMB IPB 63
Bogor | Hari kedua MPKMB IPB 63 × Agrisymphony 2026, Selasa, 11 Agustus 2026, membawa Sobat Dipta pada pengalaman yang lebih reflektif. Setelah sehari sebelumnya mengenal lingkungan dan semangat awal sebagai mahasiswa IPB, kali ini mereka diajak melihat lebih jauh tentang dunia yang akan dihadapi, nilai yang perlu dimiliki, serta pilihan yang akan menentukan perjalanan mereka ke depan.
Sejak pagi, mahasiswa baru telah memenuhi rangkaian kegiatan yang diawali dengan kedatangan, presensi, dan pengondisian. Setelah safety induction, pembukaan, lagu Indonesia Raya dan Himne IPB, serta doa bersama, perjalanan Day 2 pun dimulai.
Tentang masa depan menjadi salah satu gagasan yang mengawali hari. Melalui kuliah umum “Make it Matter”, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mengajak mahasiswa melihat perubahan bukan sekadar sebagai sesuatu yang harus dihadapi, tetapi juga sebagai ruang untuk menciptakan dampak.
Sebagai mantan Rektor IPB University, Prof. Arif membawa mahasiswa pada pembahasan mengenai kepemimpinan, riset, inovasi, dan kompetensi masa depan. Perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik menjadi gambaran bahwa persoalan di masa mendatang akan semakin kompleks. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi orang yang mampu beradaptasi, tetapi juga perlu memiliki kapasitas untuk mengambil peran dan menciptakan perubahan.
Namun, sebelum berbicara terlalu jauh tentang dunia di luar kampus, Sobat Dipta juga perlu memahami dunia yang kini mereka masuki. Hal tersebut menjadi fokus dalam kuliah umum “Entering IPB as A New World” bersama Wakil Rektor IPB University, Prof. drh. Deni Noviana, Ph.D., DAiCVIM.
IPB diperkenalkan bukan hanya sebagai tempat untuk mengikuti perkuliahan, tetapi sebagai ruang dengan berbagai peluang untuk berkembang. Kurikulum K2025 Multistrata, fasilitas pembelajaran digital, program internasional, serta berbagai layanan mahasiswa menjadi bagian dari perjalanan yang akan mereka jalani.
Di balik berbagai kesempatan tersebut, terdapat satu hal yang tidak kalah penting: kemandirian. Memasuki dunia perkuliahan berarti mahasiswa mulai memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap proses belajarnya sendiri. Bukan hanya mengejar nilai, tetapi juga membangun kompetensi, menghasilkan karya, dan menjaga integritas di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Berbagai perspektif tentang kehidupan mahasiswa kemudian diperluas melalui pemaparan Bisnis IPB. Setelah memperoleh gambaran mengenai dunia akademik dan masa depan, Sobat Dipta kembali diajak melihat bahwa perjalanan di kampus juga akan mempertemukan mereka dengan berbagai pilihan dan lingkungan yang beragam.
Di titik inilah pesan “Hold Your Ground” bersama Ferry Irwandi menjadi relevan. Bertambahnya pilihan tidak selalu berarti semuanya harus diikuti. Menjadi mahasiswa juga berarti belajar mengenali apa yang diyakini dan menentukan batas yang ingin dijaga.
Ferry mengajak mahasiswa untuk memiliki pegangan ketika berhadapan dengan beragam pendapat, tekanan, maupun lingkungan baru. Sebab, semakin luas dunia yang ditemui, semakin besar pula kemungkinan seseorang kehilangan arah jika tidak memiliki nilai yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan.
Pembahasan tersebut kemudian berkembang melalui sesi tanya jawab. Mahasiswa baru mendapatkan ruang untuk berinteraksi langsung dengan narasumber, sebelum suasana kembali dibuat lebih santai melalui ice breaking.
Jika sebelumnya mahasiswa diajak memikirkan prinsip yang ingin dipegang, sesi “The Path Unfolds” bersama Jerome Polin dan Bene Dion Rajagukguk membawa mereka pada pertanyaan lain: bagaimana jika perjalanan yang dijalani ternyata tidak sesuai dengan rencana?
Keduanya membagikan pengalaman mengenai pendidikan, pilihan karier, proses mencoba berbagai hal, hingga perjalanan menemukan jalan masing-masing. Cerita tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari jalur yang sudah tersusun sejak awal. Ada kalanya seseorang perlu mencoba, gagal, berbelok, dan kembali menentukan pilihan.
Pesan itu menjadi semakin dekat bagi mahasiswa baru yang baru saja memulai perjalanan mereka di IPB. Empat tahun ke depan bukan sekadar periode untuk menyelesaikan studi, melainkan juga waktu untuk menemukan minat, mengenali kemampuan, membangun relasi, mencoba berbagai kesempatan, dan memahami diri sendiri.
Dengan beragam perspektif yang hadir sepanjang hari, Day 2 menjadi semacam ruang untuk melihat kehidupan mahasiswa dari banyak sisi. Ada masa depan yang perlu dipersiapkan, dunia akademik yang perlu dikenali, prinsip yang perlu dijaga, serta perjalanan personal yang tidak selalu dapat diprediksi.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa IPB bukan hanya tentang apa yang akan dipelajari, tetapi juga siapa yang akan dibentuk selama proses tersebut.
Dan ketika hari kedua berakhir, mungkin belum semua Sobat Dipta memiliki jawabannya. Namun, setidaknya mereka telah mulai memiliki pertanyaan yang penting untuk dibawa sepanjang perjalanan: ingin menjadi siapa setelah semua pengalaman di IPB selesai dijalani?
