Mahasiswa IPB University Tanam 7.500 Bibit Mangrove di Desa Patra Manggala

mahasiswa-ipb-university-tanam-7-500-bibit-mangrove-di-desa-patra-manggala-news

Masyarakat di Desa Patra Manggala, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Banten dulunya menganggap keberadaan mangrove mengganggu budidaya udang windu. Penebangan pohon mangrove secara besar-besaran pun sempat dilakukan di daerah ini. Tahun 2006, hasil panen udang windu mencapai 20 kilogram per harinya. Namun setelah ketiadaan mangrove, hasil panen udang lambat laun menurun. Bahkan budidaya udang di daerah ini sempat benar-benar mati.

Melihat kondisi ini, mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Himasper FPIK), IPB University setiap tahun rutin menanam mangrove di Desa Patra Manggala. Penanaman bibit mangrove ini dilakukan karena mangrove dipercaya sebagai tanaman yang mampu menyerap emisi karbon serta merupakan daerah penting yang mendukung biota air untuk berkembang biak.

Penanaman mangrove tahun 2019 kali ini bertajuk Green Belt Conservation (GBC) 2019 dan dilakukan oleh 100 mahasiswa serta masyarakat desa. Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang juga ikut mendampingi dalam proses penanaman 7.500 mangrove di Desa Patra Manggala.

Rafialwan Athariq Subing sebagai Ketua Himasper FPIK IPB University mengatakan bahwa daerah pesisir Desa Patra Manggala dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dalam kegiatan kehutanan, pertanian, dan perikanan. Kombinasi ketiga disiplin ilmu ini sering disebut pengelolaan dengan sistem sylvofishery. Kegiatan budidaya, penanaman, pemeliharaan, dan pelestarian hutan dilakukan secara bersamaan dan berkelanjutan.

“Keberadaan mangrove di pesisir ini penting adanya. Kami melakukan pendampingan langsung kepada kelompok pemerhati mangrove di Desa Patra Manggala untuk mengembalikan kondisi perairan sebagaimana semestinya,” tutur Hari Mahardika, perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang.

Penanaman mangrove kembali ini menjadi langkah tepat. Hal ini ditunjukkan dengan pulihnya kegiatan budidaya udang. Hasil panen yang sempat mati kemudian meningkat menjadi satu ons per hari.

Mulyana atau yang akrab disapa dengan sebutan Pak Taya mengaku bahwa saat ini hasil budidaya dapat mencapai 5 kilogram per hari setelah ditanami mangrove.

“Masyarakat mulai sadar bahwa mangrove itu penting. Dukungan dari segala pihak sangat diharapkan untuk memulihkan kondisi daerah pesisir kami. Kegiatan ini menjadi salah satu dukungan yang didapatkan oleh masyarakat setempat,” ungkap Mulyana selaku Koordinator Kelompok Pemerhati Mangrove Desa Patra Manggala.

Sementara itu, Naufal Hawali Bastaman menjelaskan bahwa selain penanaman 7.500 bibit mangrove yang diperoleh dari instansi setempat yang peduli pada konservasi mangrove itu, diskusi dengan masyarakat juga dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh Pardi Pay, S.Pi dari Forest Watch Indonesia (FWI) yang menampung permasalahan yang dirasakan oleh Kelompok Pemerhati Mangrove setempat.

Hasil diskusi tersebut akan menjadi bahan yang dikaji oleh Himasper FPIK IPB University. Perumusan saran pengelolaan mangrove di pesisir Desa Patra Manggala akan dilakukan di bawah bimbingan Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc sebagai output yang diberikan dari diadakannya kegiatan ini.

Harapan besar disampaikan oleh Dr. Majariana Krisanti selaku Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), FPIK IPB University. Dr Majariana berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini saja.

“Keberlanjutan kegiatan penanaman mangrove menjadi tugas yang harus dilakukan oleh Himasper FPIK IPB University. Saya juga berharap perumusan saran pengelolaan mangrove untuk Desa Patra Manggala dapat segera diselesaikan dan bisa segera diserahkan ke Pemerintah Daerah setempat sebagai referensi kebijakan yang dapat diambil.

source:ipb.ac.id

Leave us a Comment